Dewan Duru

Dewan Guru MTs. dan MA Kabeloa Alkhairaat

Kegiatan Siswa

Domo nitoraku isema pura ri foto.

Guru dan Pengawas

Kunjungan Kerja Pengawas ke Madrasah

K.H. SYAKIR HUBAIB

Pendiri Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat ...

PASKIBRAKA

SISWA MA Kabeloa Mengikuti Kegiatan PASKIBRAKA Kab. Sigi

۞ WAKTU BALAROA PEWUNU ۞

Rabu, 24 November 2021

Media Pembelajaran sebagai Penunjang Keberhasilan Belajar

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

 


Media Pembelajaran sebagai Penunjang Keberhasilan Belajar

(artikel Pendidikan)

                                                        

 Oleh: Haryati

           Dalam mencapai tujuan pendidikan hal yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang guru ialah metodologi pengajaran. Harjanto dalam bukunya Perencanaan Pengajaran 2003:237) menjelaskan bahwa dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan medis pendidikan sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Dari penjelasan Harjanto dalam bukunya Perencanaan Pengajaran diatas dapat disimpulkan bahwa media pendidikan merupakan alat bantu mengajar dan juga termasuk kepada komponen metodologi yang harus diatur oleh guru guna mencapai tujuan pembelajaran.

          Dalam pengertiannya media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merang-sang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi Sadiman, et al. (2012, p.7). Dengan demikian media pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran mengingat keberadaannya yang dapat menciptakan lingkungan belajar efektif.

          Media pembelajaran sangatlah penting dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang baik. Dengan adanya media pembelajaran maka proses pembelajaran akan berjalan dengan efektif dan hal ini tentu akan menimbulkan dampak positif bagi hasil belajar. Hasil belajar yang baik dapat terwujud karena ada proses belajar yang baik, dan proses belajar yang baik tercipta karena adanya media pembelajaran yang mendukungnya.

           Harjanto dalam bukunya Perencanaan Pembelajaran (2003:237) membagi jenis media pendidikan yang biasa digunakan dalam proses pengajaran, diantaranya yaitu (1) media grafis (media dua dimensi) seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster,kartun komik dan lain-lain. (2) Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model panjang, model susun, model kerja, mock up, diorma dan lain-lain. (3) media proyeksi seperti slide, filmstrip, film OHP dan lain sebagainya. (4) penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan. Terlepas dari kecanggihan medianya pengelompokan media diatas ialah berdasarkan fungsinya dalam membantu mempertinggi kualitas pengajaran.

          Lithanta dalam (Suyanto dan Asep Jihad, 2013:107) menjelaskan manfaat penggunaan media (alat peraga) dalam pembelajaran, diantaranya (1) Siswa akan lebih banyak mengikuti pelajaran dengan gembira, sehingga minatnya mempelajari materi pelajaran semakin besar, (2) siswa akan lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan, terutama ketika guru menyajikan konsep abstrak materi pelajaran ke dalam bentuk konkret, (3) siswa akan menyadari adanya hubungan antara pengajaran dan benda-benda yang ada di sekitarnya atau antara ilmu dengan alam sekitar dan masyarakat.

          Selain fungsi dan manfaat diatas media pembelajaran dapat dikaitkan dengan pembentukan konsep, pemahaman konsep, latihan dan penguatan, pelayanan terhadap perbedaan kemamuan individual, pengukuran, pemecahan masalah padaumumnya, rangsangan untuk berpikir, rangsangan untuk berdiskusi, serta rangsangan untuk berpartisipasi aktif (Suyanto dan Asep Jihad, 2013:108)

          Dewasa ini zaman sudah semakin canggih. Perkembangan teknologi sudah tak dapat dielakkan lagi. Setiap hari dunia mengalami perubahan dan perkembangan teknologi ke arah yang lebih baik. Perkembangan teknologi ini semestinya menjadi hal yang menguntungkan bagi dunia pendidikan. Dengan adanya teknologi canggih kepentingan yang berkaitan dengan kependidikan seharusnya lebih mudah terurus dan terpenuhi.

           Kepentingan kependidikan yang harusnya terpenuhi dengan adanya teknologi canggih ialah tersedianya media-media pembelajaran yang canggih pula. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Smaldino, et al. (2012, p.5) bahwa teknologi dan media yang disesuaikan dan dirancang secara khusus bisa memberi kontribusi bagi pengajaran yang efektif dari seluruh siswa dan bisa membantu mereka meraih potensi ter-tinggi mereka. Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa media dan teknologi memiliki andil yang kontributif untuk dapat meningkatkan kualitas pengajaran di kelas dan juga dapat membangkitkan potensi ter-baik dari siswa. Dengan meningkatnya kualitas pengajaran kemudian membangkitnya potensi ter-baik dari siswa tentunya secara langsungn siswa juga akan mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Dengan tercapainya hasil belajar yang maksimal maka tujuan pendidikan pun teraih.

          Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran memiliki peran yang cukup penting dalam mempertinggi hasil belajar. Oleh karenanya guru diharapkan dapat mengupayakan keberadaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dengan memanfaatkan segala sesuatu yang  ada dan dibarengi kecanggihan teknologi masa kini guru tentunya dapat menciptakan, mengkreasikan dan merangkai medianya sendiri guna menunjang proses pembelajaran yang efektif. Karena dari proses pembelajaran yang efektif itulah akan tercipta hasil belajar yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Sadiman, Arief, dkk. 2012. Media pendi-dikan pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Pustekkom Dikbud dan PT. RajaGrafindo Persada.

Smaldino, Sharon E., Lowther, Deborah L., Russel, James D. 2011. Instructional technology & media for learning tekno-logi pembelajaran dan media untuk belajar (9thed). (Terjemahan Arif Rah-man). Jakarta: Kencana. (Buku asli diterbitkan tahun 2011 oleh Pearson Education, Inc.).

Suyanto, dan Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru yang Profesional. Jakarta: Penerbit Erlangga.



Sumber : https://sman5kotabekasi.sch.id/pages/read/6/media-pembelajaran-sebagai-penunjang-keberhasilan-belajar-artikel-pendidikan

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Dana BOS Dorong Pembuatan Website Sekolah

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

 




          Selama ini masih belum merata sekolah-sekolah, di Kabupaten Sigi, misalnya, memiliki dan mengelola website sekolah sendiri. Jika ada kreativitas warga sekolah, kebanyakan informasi sekolah baru dapat diikuti melalui akun-akun media sosial lain seperti facebook, twitter dan sejenis. Beberapa sekolah memang sudah menginformasikan sekolah lewat blog tapi bukan website dengan domain khusus untuk sekolah, misalnya.

          Selain kendala kemauan dan kemampuan IT sekolah, belum meratanya kepemilikan website oleh sekolah juga disebabkan oleh keterbatasan anggaran. Ini alasan klasik, memang. Beberapa sekolah yang kepala sekolahnya sempat diajak berdiskusi, mereka menyatakan anggaran yang kurang membuat sekolah kurang bersemangat untuk membuat dan mengelola website sekolah. Dalam pikiran rekan-rekan pengelola sekolah, anggaran website sekolah haruslah besar. Padahal itu tidaklah benar.

          Saya menganggap alasan kekurangan anggaran tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan tidak benar sama sekali karena sesungguhnya sejak adanya BOS (Bantuan Operasional Sekolah) bahkan sejak sebelumnya, tentu sudah ada juga anggaran operasional sekolah yang khusus untuk pengelolaan website. Syaratnya, jika sekolah sendiri mau menganggarkannya dengan dana yang ada.

          Setelah adanya bantuan khusus operasional yang disebut BOS, itu maka anggaran operasional itu sudah semakin mudah merencanakannya. Jika pun pada awal keberadaan BOS --saat dalam bentuk rintisan-- untuk SLTA, belum ada dana khusus untuk website, para pengelola sekolah sejatinya tetap bisa menganggarkan dana untuk keperluan operasional website itu. Tinggal sekolah mau atau tidak untuk menganggarkan keperluan-keperluan berkaitan pembuatan dan pengelolaan website sekolah tersebut.

          Untuk anggaran yang akan berlaku pada bulan Juli 2015, dana BOS ternyata sudah dan tetap menganggarkan untuk operasional website sekolah. Seperti BOS tahun berjalan, dalam Juknis memang sudah ditetapkan salah satu penggunaan anggaran dana BOS adalah untuk pengelolaan website sekolah. Dengan demikian, dana BOS sesungguhnya terus mendorong sekolah agar mengelola website sekolah sebagai salah satu sarana informasi sekolah dengan masyarakat.

          Dari sini sesungguhnya dapat digambarkan bahwa ketiadaan website sekolah tidaklah dikarenakan ketiadaan anggaran atau biaya sebagaimana pandangan selama ini. Nyatanya dana bantuan Pemerintah dari BOS sudah ditentukan (ditegaskan) bahwa salah satu penggunaannya adalah untuk pengelolaan website sekolah. Ini berarti keberadaan website sekolah sepenuhnya ditentukan oleh pengelola sekolah itu sendiri. Selama sekolah tidak menjadikan keberadaan website sekolah sebagai salah satu keperluan sekolah, maka selama itu pula website sekolah tidak akan ada di sekolah tersebut.

          Di sisi lain, anggaran APBN berupa dana BOS itu sesungguhnya sudah menganggarkan kebutuhan pengelolaan sekolah. Dana BOS terbukti sangat mendorong malah memerintahkan adanya website sekolah untuk setiap sekolah. Lalu alasan apa yang akan dipakai untuk tidak membuat dan mengelola website sekolah?

Bahwa untuk keperluan pengelolaan website sekolah diperlukan beberapa hal pokok seperti jaringan internet dan arus listrik, ini tentu saja menjadi kewajiban utama lainnnya yang harus diperhatikan sekolah. Sekolah bahkan juga wajib berkomunikasi atau bekerja sama dengan orang-orang yang mengerti bagaimana mengelola website sekolah sebagai kewajiban awal. Selanjutnya, sekolah harus juga menunjuk guru atau siapa saja yang akan mengelola website itu nantinya. Apapun dan bagaimanapun caranya, kebutuhan utama untuk keperluan website tentu saja harus diusahakan Sekolah. Bagaimanapun, anggaran sudah tersedia maka website pun wajib ada.***


Sumber : Unknown



----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Selasa, 23 November 2021

Sambutan Kepala MTs. Kabeloa Alkhairaat

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

 


                                                  MUSTAFAH, S.Ag, M.Ag ...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Selamat datang di website resmi M.Ts. KABELOA ALKHAIRAAT.

Sebagai media informasi dan komunikasi web Madrasah Tsanawiyah Kabeloa Alkhairaat, Balaroa Pewunu Kec. Dolo Barat Kabupaten Sigi, dibangun dan dikembangkan dalam rangka meningkatkan layanan sekolah kepada peserta didik, orang tua dan masyarakat. Kualitas layanan menjadi salah satu misi sekolah dan kaitannya dengan transparansi dan akuntabilitas sekolah. Melaksanakan amanah sebagai pimpinan di MTs. Kabeloa Alkhairaat, harapan untuk menjadikan sekolah besar dengan bertabur prestasi baik akademik maupun non akademik terus meningkat. Sekolah yang akan melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, religius yang berwawasan lingkungan serta mengabdi kepada bangsa dan negara. Mendorong terus berkembangnya inovasi dan kreasi warga sekolah. Meningkatkan kekeluargaan dan kerjasama dengan seluruh komponen . Dari lubuk hati yang dalam, saya mengajak seluruh warga sekolah,orang tua dan  masyarakat, marilah kita bergandeng tangan dan berkolaborasi untuk menciptakan sekolah yang nyaman, aman dan menyenangkan bagi putra-putri kita dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah SWT meridhoinya dan masyarakat dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dengan segala usaha dan upaya Madrasah Tsanawiyah Kabeloa Alkhairaat, Balaroa Pewunu Kec. Dolo Barat Kab. Sigi.

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Sekolah Kita

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}
----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Referensi Data

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}
----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Senin, 22 November 2021

𝘿𝙧. 𝙃. 𝘼𝙣𝙖𝙨 𝙔𝙖𝙡𝙞𝙩𝙤𝙗𝙖, 𝙎.𝙎𝙤𝙨. 𝙈𝙈 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙎𝙚𝙠𝙧𝙚𝙩𝙖𝙧𝙞𝙨 𝘽𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣 𝙍𝙄

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

  



Menteri Syahrul Yasin Limpo, Lantik Anas Yalitoba Sebagai Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI

JAKARTA, - Berdasarkan Pasal 135 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017, yang berbunyi setiap Pegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi pejabat pimpinan tinggi pratama wajib dilantik dan mengangkat sumpah / janji jabatan menurut agama atau kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa.

Olehnya itu, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo melantik dan mengambil sumpah jabatan terhadap para pejabat yang akan dilantik.

Adapun pejabat yang akan dilantik salah satunya adalah seorang putra daerah ``Asli Sigi`` atau yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Sigi, Dr. H. Anas Yalitoba.,S.Sos.,MM yang dilantik menjadi Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia,

``Semoga dengan jabatan yang saya emban ini, sektor pangan dibidang pertanian mampu mencapai hasil maksimal. Do'akan saya, agar mampu mengembangkan sumber daya yang dimiliki dan menjalankan organisasi ini secara maksimal. Semoga pengabdian ini menjadi ladang amal saya dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia," ucap Anas Yalitoba pada media ini, Kamis (25/3/2021) Pagi.

Menurut Anas, yang memiliki latar belakang sebagai dari seorang ``Anak Petani`` itu, setiap jabatan tidak akan berarti apa-apa jika dalam kenyataannya abdi negara tidak mampu memberikan kontribusi maksimalnya terhadap kemajuan bangsa,

``Jabatan itu hanya datang dari Tuhan. Bahwa segalanya sudah jadi takdir. Tapi seorang pejabat bukan untuk berleha-leha. Ini amanah dari Allah, dari Tuhan,`` katanya.

Dirinya berharap, produksi pertanian mampu melesat dalam posisi maksimal. Sekretaris Badan Ketahanan Pangan, Kementan RI itu ingin subsektor pertanian memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, ``Ambil keputusan cepat dan jangan kita biarkan orang kelaparan. Kerja dengan fokus dan disiplin. Harus tau langkah - langkah kerja kongkritnya. Hebat itu kalau kita mau fokus. Fokus itu artinya tidak main - main. Tidak boleh korupsi dan harus melayani," terangnya

Pelantikan yang berlangsung di Ruang Pola Gedung A, Lantai 2, Kantor Pusat Kementerian Pertanian Republik Indonesia itu, dimulai Pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai atau Pukul 10.00 WITA, yang disaksikan serta dihadiri langsung oleh sanak keluarga diantaranya Saudara, Istri, Anak dan Cucu beliau.

SUMBER : BID. PIKP / DISKOMINFO SIGI

Keluarga Besar Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat Pewunu mengucapkan Selamat kepada Ketua Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat Pewunu yang mendapat kesempatan dilantik sebagai Sekretaris Badan Ketahanan Pangan, Kementan RI.

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Membedakan Beberapa Model Doa, Apakah Termasuk Syirik Akbar ataukah Bukan

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

  


Di antara kewajiban kita kaum muslimin adalah memurnikan doa, permohonan, dan permintaan hanya kepada Allah Ta’ala dalam rangka merealisasikan dan mewujudkan tauhid dalam kehidupan. Dan berkaitan dengan ibadah doa tersebut, terdapat beberapa model doa yang harus kita ketahui hukumnya secara rinci, agar kita bisa menyikapi permasalahan tersebut dengan ilmu. Bisa jadi karena kemiripan kasusnya, kita pun menjadi rancu dalam menentukan hukumnya.

Dalam tulisan ini, kami akan membahas tiga

macam (model) doa dan status hukumnya masing-masing

Berdoa dengan model meminta langsung kepada orang shalih yang telah meninggal dunia

Contoh kasusnya adalah seseorang mendatangi kubur orang shalih atau wali yang meninggal dunia dan berdoa, “Wahai wali A, berikanlah aku anak dan lunasilah hutang-hutangku.” Atau dia mendatangi kubur wali B dan berdoa, “Wahai wali B, sembuhkanlah penyakitku.”

Kalau kita melihat teks doanya, jelas-jelas orang tersebut berdoa kepada selain Allah Ta’ala. Akan tetapi, jika kita bertanya kepada pelakunya, si pelaku akan memberikan dalih atau alasan, “Lafadz doa kami memang demikian, akan tetapi i’tiqad (keyakinan) kami tidaklah demikian. Wali-wali ini kami yakini hanya sebagai perantara dalam doa kepada Allah Ta’ala. Karena kami tidak meyakini bahwa wali-wali tersebut memiliki sifat rububiyyah.”

Inilah dalih atau alasan mereka ketika kita mengingkari ucapan doa mereka di sisi kubur wali yang telah meninggal dunia tersebut.

Lafadz doa semacam ini, tidak lepas dari dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, dia meyakini bahwa wali yang sudah mati tersebut memiliki sifat rububiyyah. Kemungkinan pertama ini bisa kita jumpai pada sebagian orang-orang musyrik jaman sekarang yang berdoa kepada jin atau wali yang sudah mati, karena meyakini bahwa mereka yang dimintai tersebut bisa mengabulkan dan mendatangkan apa yang mereka minta.

Meskipun demikian, kemungkinan pertama ini bukanlah model kemusyrikan pada jaman jahiliyyah sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena model kemusyrikan jaman jahiliyyah adalah kemungkinan ke dua, yaitu:

Kemungkinan ke dua, si pelaku tidak meyakini bahwa wali yang diminta itu memiliki sifat rububiyyah. Akan tetapi, si pelaku meyakini bahwa wali-wali tersebut adalah pemberi syafa’at di sisi Allah Ta’ala, yaitu syafa’at syirkiyyah.

Keyakinan adanya syafa’at syirkiyyah adalah keyakinan bahwa:

Allah Ta’ala tidak akan mengijabahi (mengabulkan) doa orang yang berdoa secara langsung kepada-Nya, namun harus memakai perantara, yaitu si pemberi syafa’at.

Allah Ta’ala itu menjawab doa perantara karena Allah Ta’ala memang membutuhkan perantara (dengan kata lain, Allah Ta’ala membutuhkan makhluk).

Si perantara tersebut memiliki hak yang wajib Allah Ta’ala tunaikan, sebagaimana keadaan orang yang memberi syafa’at di sisi para raja. Misalnya, sang Raja memiliki paman. Maka ketika paman ini menjadi perantara permohonan sebagian rakyat, tentu sang Raja akan mengabulkan permohonan sebagian rakyatnya tersebut, karena kedudukan paman tersebut di sisi Raja, sehingga sang Raja “tidak berani” menolak permintaan pamannya. (Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, hal. 168)

Keyakinan adanya syafa’at syirkiyyah inilah sebab kemusyrikan orang-orang musyrik jahiliyyah. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (QS. Yunus [10]: 18)

Perhatikan baik-baik ayat di atas. Orang-orang musyrik dahulu, mereka beribadah kepada selain Allah Ta’ala, tidak beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, ketika ditanya mengapa mereka berbuat demikian, mereka mengatakan, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Artinya, mereka meyakini bahwa sesembahan-sesembahan mereka tersebut adalah perantara yang akan mengantarkan doa dan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala, karena mereka menganggap dirinya sebagai makhluk yang hina yang tidak pantas berdoa langsung kepada Allah Ta’ala.

Dan di akhir ayat, Allah Ta’ala vonis perbuatan mereka tersebut sebagai kemusyrikan syirik akbar. Oleh karena itu, hukum berdoa dengan model pertama ini adalah syirik akbar dengan ijma’ (kesepakatan) ulama, tidak ada khilaf (perselisihan) ulama di dalamnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

فمن جعل الملائكة والأنبياء وسائط يدعوهم ويتوكل عليهم ويسألهم جلب المنافع ودفع المضار مثل أن يسألهم غفران الذنب وهداية القلوب وتفريج الكروب وسد الفاقات فهو كافر بإجماع المسلمين

“Barangsiapa yang menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai perantara (dalam ibadah), mereka berdoa kepadanya, bertawakkal kepadanya, meminta kepada mereka untuk mendatangkan manfaat dan mencegah datangnya bahaya, misalnya meminta kepada mereka agar diampuni dosanya, mendapatkan hidayah, menghilangkan kesusahan, atau memenuhi kebutuhan, maka dia telah kafir dengan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Fataawa, 1: 124)

Meminta didoakan oleh orang yang telah meninggal dunia

 

Model ke dua adalah seseorang mendatangi kubur wali atau kubur orang shalih

tertentu, kemudian memminta kepada si mayit agar mendoakan kepada Allah Ta’ala agar hutangnya lunas atau segera punya anak. Misalnya dengan kalimat, “Wahai wali A, mohonkanlah kepada Allah Ta’ala agar Allah Ta’ala memberikan aku anak (momongan).”

Bedakanlah lafadz doa ini dengan lafadz doa pada model pertama.

Berbeda dengan model pertama yang hukumnya syirik akbar, berdoa dengan model ke dua ini (meminta didoakan oleh orang yang telah meninggal dunia) diperselisihkan oleh ulama, apakah termasuk syirik akbar ataukah bukan. Sebagian ulama menilai syirik akbar. Di antara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh Shalih Alu Asy-Syaikh hafidzahullahu Ta’ala [1]. Sebagian ulama yang lain menilai bahwa perbuatan ini belum sampai derajat syirik akbar, akan tetapi sarana menuju syirik akbar.

Pendapat ke dua inilah yang –insyaa Allah- lebih tepat, yaitu bahwa doa dengan model semacam ini adalah wasilah (sarana) menuju syirik akbar dan bid’ah dalam doa, belum sampai derajat syirik akbar, kecuali diiringi dengan i’tiqad syafa’at syirkiyyah. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz dan juga Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahumullahu Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ وَالصَّالِحُونَ وَإِنْ كَانُوا أَحْيَاءً فِي قُبُورِهِمْ وَإِنْ قُدِّرَ أَنَّهُمْ يَدْعُونَ لِلْأَحْيَاءِ وَإِنْ وَرَدَتْ بِهِ آثَارٌ فَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَطْلُبَ مِنْهُمْ ذَلِكَ وَلَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ لِأَنَّ ذَلِكَ ذَرِيعَةٌ إلَى الشِّرْكِ بِهِمْ وَعِبَادَتِهِمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ تَعَالَى؛ بِخِلَافِ الطَّلَبِ مِنْ أَحَدِهِمْ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّهُ لَا يُفْضِي إلَى الشِّرْكِ

“Demikian pula para Nabi dan orang-orang shalih, meskipun mereka hidup di kubur-kubur mereka. Jika diandaikan bahwa mereka bisa mendoakan orang-orang yang masih hidup dan seandainya terdapat riwayat tentang masalah ini, tidak boleh bagi seorang pun untuk minta doa dari mereka yang telah mati (agar mendoakan mereka kepada Allah Ta’ala). Ini satu hal yang tidak pernah dilakukan oleh satu pun dari ulama salaf, karena perbuatan itu merupakan sarana menuju kemusyrikan dan beribadah kepada mereka, yaitu selain Allah Ta’ala. Hal ini berbeda dengan perbuatan meminta kepada mereka agar berdoa kepada Allah Ta’ala ketika mereka masih hidup, maka perbuatan ini tidak mengantarkan kepada kemusyrikan.” (Majmu’ Fatawa, 1: 330)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata,

 

أَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ أَوْ الْغَائِبِ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ: اُدْعُ اللَّهَ لِي أَوْ اُدْعُ لَنَا رَبَّك أَوْ اسْأَلْ اللَّهَ لَنَا كَمَا تَقُولُ النَّصَارَى لِمَرْيَمَ وَغَيْرِهَا فَهَذَا أَيْضًا لَا يَسْتَرِيبُ عَالِمٌ أَنَّهُ غَيْرُ جَائِزٍ وَأَنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَفْعَلْهَا أَحَدٌ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ

“Atau dikatakan kepada mayit atau orang yang ghaib (hidup namun di lain tempat), baik dari kalangan Nabi atau orang shalih, “Berdoalah kepada Allah Ta’ala untukku” atau “Berdoalah kepada Rabb-mu untuk kami” atau “Mintalah kepada Allah Ta’ala untuk kami”, sebagaimana yang diucapkan oleh orang-orang Nashrani kepada Maryam atau yang lainnya. Maka perbuatan semacam ini tidaklah diragukan oleh orang yang berilmu bahwa perbuatan ini tidaklah diperbolehkan, karena termasuk bid’ah (dalam doa) yang tidak pernah dilakukan oleh satu pun ulama salaf.” Majmu’ Fatawa, 1: 351)

Ketika memberikan catatan (komentar) perkataan Ibnu Hajar di Fathul Baari,

فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا

“Maka datanglah seseorang ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, mintalah hujan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahumullahu Ta’ala berkata,

وأن ما فعله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك , بل قد جعله بعض أهل العلم من أنواع الشرك

“Sesungguhnya apa yang diperbuat oleh orang itu adalah sebuah kemungkaran dan sarana menuju syirik. Bahkan sebagian ulama menilainya termasuk dalam kemusyrikan.” (Ta’liq Fathul Baari oleh Ibnu Baaz, 2: 49)

Perkataan Syaikh Ibnu Baaz di atas jelas menunjukkan bahwa beliau menilai bahwa perbuatan tersebut adalah sarana kemusyrikan (alias belum sampai derajat syirik akbar), tanpa menutup mata adanya khilaf ulama dalam masalah ini, di mana sebagian ulama menilai bahwa perbuatan tersebut adalah syirik akbar.

Namun, terdapat perincian dalam masalah dengan melihat jarak antara orang yang berdoa tersebut dengan kubur si mayit, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid rahimahullahu Ta’ala [1]. Yaitu, jika jaraknya jauh, maka ini termasuk syirik akbar karena adanya keyakinan bahwa si mayit tersebut mengetahui atau mendengar aktivitas doa orang yang meminta tolong agar didoakan (mengetahui hal yang ghaib). Namun jika jaraknya dekat (dia berada di sisi kubur langsung), sebagaimana perbuatan para pemuja (pengagung) kubur, maka ini termasuk bid’ah dan bukan syirik akbar, kecuali jika diiringi dengan i’tiqad syafa’at syirkiyyah sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.

Berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebut pangkat dan kemuliaaan orang shalih tertentu

Model ke tiga adalah berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan pangkat, kedudukan, dan kemuliaan orang shalih. Misalnya berdoa dengan lafadz, “Ya Allah, dengan kemuliaan Nabi-Mu di sisi-Mu, berilah aku anak (momongan).”

Atau lafadz lainnya, “Ya Allah, dengan kemuliaan Imam Asy-Syafi’i, ampunilah dosa-dosaku, mudahkanlah urusanku, dan berikanlah aku momongan.”

Untuk doa model ke tiga ini, status hukumnya adalah tawassul bid’iyyah (tawassul dalam doa yang statusnya bid’ah), dan bukan kemusyrikan, kecuali jika diiringi dengan i’tiqad syafa’at syirkiyyah.

Kita katakan sebagai bid’ah, karena tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dikenal pada jaman sahabat radhiyallahu Ta’ala ‘anhum. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا ، قَالَ: فَيُسْقَوْنَ

“Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan bertawassul kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a, “Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami.” Anas berkata, “Mereka pun kemudian mendapatkan hujan.” (HR. Bukhari no. 1010 dan 3710)

Hadits ini berkaitan dengan musim kemarau panjang yang terjadi di jaman ‘Umar bin Khaththab. Lalu ‘Umar mendatangi paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau berdoa kepada Allah Ta’ala supaya diturunkan hujan.

Sehingga yang dimaksud dengan “bertawassul kepada ‘Abbas paman Nabi” adalah bertawassul dengan doa ‘Abbas kepada Allah Ta’ala, yaitu ‘Umar meminta ‘Abbas (yang masih hidup) untuk berdoa kepada Allah Ta’ala meminta diturunkan hujan.

“Bertawassul kepada ‘Abbas paman Nabi” tidaklah maksudnya bertawassul dengan dzat dan kedudukan (jah) beliau. Jika yang dimaksud dengan “tawassul kepada ‘Abbas” adalah tawassul dengan menyebutkan dzat dan kedudukan (jah) ‘Abbas, maka ‘Umar tentu akan lebih memilih untuk tawassul dengan dzat dan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, daripada bertawassul dengan ‘Abbas. Karena kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu terus langgeng (tetap ada) meskipun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia, sebagaimana kedudukan yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam miliki ketika masih hidup. Sehingga kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih utama dibandingkan dengan kedudukan paman beliau, ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib.

Jika tawassul dengan jah (kedudukan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan, dan merupakan sebab terkabulnya doa, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan perintahkan kepada kita serta memotivasi kita semua untuk mengamalkannya. Hal ini menunjukkan bahwa tawassul dengan menyebutkan jah (kedudukan) orang shalih tidaklah dikenal di jaman sahabat radhiyallahu Ta’ala ‘anhum.

Adapun hadits berikut ini,

توسلوا بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم

“Bertawassul-lah kalian dengan jah-ku, karena sesungguhnya jah-ku di sisi Allah adalah agung.”

adalah hadits yang batil, tidak memiliki asal usul di kitab-kitab hadits.

 

 [Selesai]

 

@Puri Gardenia, 23 Rajab 1440/30 Maret 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/46142-membedakan-beberapa-model-doa-apakah-termasuk-syirik-akbar-ataukah-bukan.html

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

  




Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

 

Seputar perawi hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy.

Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat.

Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.

Poin kandungan hadits

Pertama:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3).

Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.”

Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kedua:

Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :

Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).

Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama.

Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah.

Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.

Ketiga:

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”.

Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.

Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah.

Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja.

Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki.

Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”.

Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?!

Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.

Diterjemahkan dari : “Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf” Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi

Penerjemah: Yhouga Ariesta

Editor: M. A.  Tuasikal

Artikel muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

Sampaikan Ilmu Dariku Walau Satu Ayat

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

  




Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

 

Seputar perawi hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy.

Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat.

Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.

Poin kandungan hadits

Pertama:

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3).

Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.”

Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kedua:

Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :

Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).

Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama.

Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah.

Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.

Ketiga:

Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”.

Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.

Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah.

Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja.

Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki.

Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”.

Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?!

Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.

Diterjemahkan dari : “Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf” Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi

Penerjemah: Yhouga Ariesta

Editor: M. A.  Tuasikal

Artikel muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html

----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

𝑯𝑰𝑲𝑴𝑨𝑯 𝑫𝑰𝑩𝑨𝑳𝑰𝑲 𝑴𝑼𝑺𝑰𝑩𝑨𝑯

Peringkat dan Tampilan:
{[["☆","★"]]}

  



Hampir setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, dan mungkin saat ini, pasti ada sahaja sesuatu yang datang kepada kita, kepada keluarga kita, kepada sahabat-sahabat kita mahupun sesiapa sahaja dari insan yang kita kenali atau pun tidak. Yang berada berdekatan mahupun yang jauh jaraknya dari lokasi kita berada. Suatu perkara yang datang dalam bentuk yang adakalanya tidak kita sangka-sangka. Sama ada dalam bentuk peristiwa, harta atau kemewahan, kesakitan, demam, kegembiraan, dan mungkin juga termasuklah perubahan fenomena alam

Hakikat dan realitinya, dalam kehidupan kita sebagai manusia yang merupakan hamba Allah, iaitu hamba kepada Rabb yang Maha Pencipta dan yang Mengatur sekalian Alam, kita pasti tidak akan lepas dari menerima atau mengalami pelbagai jenis cubaan, ujian, dan mungkin juga fitnah mahu pun musibah.

Malahan, ujian dan pelbagai jenis cubaan itu sendiri adalah merupakan sunnatullah. Yang mana Allah sendiri telah menyatakan bahawa Dia akan menguji kita dengan sesuatu yang sama ada disenangi mahu pun yang sebaliknya iaitu dari hal-hal yang dibenci.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Surah al-Anbiya’, 21: 35)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanhu wa Ta’ala menyatakan:

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami bahagikan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan, di antaranya ada orang-orang yang soleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Surah al-A’raaf, 7: 168)

Kata Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah (Wafat: 310H):

واختبرناهم بالرخاء في العيش، والخفض في الدنيا والدعة، والسعة في الرزق، وهي “الحسنات” التي ذكرها جل ثناؤه ويعني ب”السيئات”، الشدة في العيش، والشظف فيه، والمصائب والرزايا في الأموال “لعلهم يرجعون”، يقول: ليرجعوا إلى طاعة ربهم وينيبوا إليها، ويتوبوا من معاصيه

Allah menguji mereka dengan kesenangan dan kesengsaraan hidup di dunia, juga dengan kelapangan dan kesempitan rezeki. Kelapangan rezeki diungkapkan dengan istilah al-hasanaat, manakala kesusahan hidup, musibah, dan kekurangan harta diungkapkan dengan istilah as-sayyi’aat. Adapun maksud kalimat “لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ” adalah setiap ujian itu tujuannya supaya manusia kembali mentaati Allah, bergantung sepenuhnya kepada-Nya, dan bertaubat dari segala perbuatan maksiat.” (Tafsir Ath-Thabari, 13/208-209)

Perkara ini memang tidak dapat dinafikan, (sebagai contoh) yang mana tentu sekali kita pernah mendengar suatu khabar yang menggemparkan dunia dengan fenomena gelombang Tsunami yang melanda sekaligus meranapkan hampir keseluruhan wilayah Acheh sekitar beberapa tahun yang lalu. Ada dari kalangan mereka yang meninggal dunia, ada yang cedera, ada yang terselamat, ada yang menjadi sebatang kara kehilangan ahli keluarga, kehilangan harta dan pelbagai lagi yang datang dalam masa yang sama kepada individu yang berbeza-beza.

Kemudian fenomena yang hampir serupa turut pernah terjadi di Myanmar. Iaitu melalui bencana Taufan Nargis yang tidak kurang hebatnya melanda beberapa bahagian negara itu. Dengannya dikhabarkan sebagai jutaan penduduk menjadi mangsa dalam tragedi tersebut. Tidaklah juga ia sekadar berkisar kepada dua contoh ini sahaja, malahan sebelum itu kita pernah digemparkan dengan Ribut Grik di Sabah, runtuhnya bangunan Highland Tower di Ibu Negara, fenomena jerebu, kemarau panjang, banjir besar, dan juga gempa bumi di negara-negara luar yang tidak kurang banyaknya berlaku saban tahun.
Mungkin ada sebahagian pihak yang menyatakan bahawa fenomena itu adalah merupakan sebahagian dari azab Allah yang melanda kaum yang tidak beriman dan suka melakukan maksiat. Maka, dengan itu ia diturunkan sebagai pengajaran buat mereka. Wallahu a’lam, pendapat seperti itu sebenarnya sama sekali kurang tepat dan memerlukan penelitian dari pelbagai sudut yang lain. Apakah kita mahu menjadi jurucakap Allah?

Sebenarnya tragedi dan ujian seperti itu boleh juga turun kepada kaum yang beriman dan mungkin sesiapa sahaja. Sebagai golongan yang beriman dengan petunjuk yang benar, pertama-tamanya kita perlu meyakini bahawa itu semua terjadi adalah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb-nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah At-Taghabun, 64: 11)

Kembali kepada ayat yang penulis bawakan di atas, ujian dan bencana tidak semestinya datang dalam bentuk tragedi seperti ombak Tsunami dan Taufan, tetapi juga ia mungkin datang dalam bentuk yang kita sendiri tidak menyedarinya sama ada dalam bentuk kesenangan atau kepayahan.
Ia juga mungkin datang bukan sahaja menguji orang-orang yang menerima ujian tersebut, tetapi juga menguji golongan yang melihat dan mengetahui datangnya musibah tersebut walaupun ia ditimpakan kepada golongan yang lain. Sekaligus, memperlihatkan, apakah reaksi bagi kelompok yang melihat musibah tersebut. Bagaimanakah sikap mereka dalam menanggapi insan-insan yang mengalami musibah, adakah mereka menghulurkan bantuan, bersyukur kerana dilindungi Allah, dijadikan sebagai iktibar, ataukah mungkin mereka memandang sinis, mencela dengan perkataan yang tidak sewajarnya, atau mungkin mereka langsung tidak memiliki sebarang respon dalam hati-hati mereka. Ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan adalah Dia Maha Kuasa lagi Maha Pengampun.” (Surah Al-Mulk, 67: 2)

Dalam ayat yang lain:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (Surah Al-A’raaf, 7: 99)

Dalam persoalan tersebut, mungkin kita terlupa bahawa sesungguhnya Allah tidaklah menetapkan sesuatu itu berlaku melainkan dengan sebab dan hikmah yang tertentu. Bagi mereka yang mahu berfikir, pasti akan mendapati setiap kejadian sama ada baik atau buruk, ia tetap mengandungi hikmah dan rahmat bagi kita.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (Wafat: 751H) mengatakan:

أمثالنا من حكمة الله في خلقه وأمره لزاد ذلك على عشرة آلاف موضع مع قصور أذهاننا ونقص عقولنا ومعارفنا وتلاشيها وتلاشي علوم الخلائق جميعهم في علم الله كتلاشي ضوء السراج في عين الشمس

Andaikata kita mampu menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, sesungguhnya kita akan dapatkan tidak kurang dari 10,000 hikmah. Namun, akal kita amatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu seluruh makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana cahaya lampu yang sia-sia di bawah terik matahari.” (Ibnul Qayyim, Syifaa’ul ‘Aliil fii Masaa’ilil Qadhaa’ wal Qadar wa Hikmah wa at-Ta’liil, m/s. 205)

Jika kita sentiasa menjadi manusia yang mahu berfikir, mengkaji, serta sentiasa memuhasabah diri kembali kepada petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, insyaAllah kita akan menemukan pelbagai jawaban tentang setiap persoalan yang melanda. Pelbagai ujian, cubaan, cabaran, penderitaan, tragedi, penyakit, kesusahan, khabar sedih mahupun gembira, manfaat atau pun hikmah, sesungguhnya semua itu telah dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sendiri sebagai memiliki sebab-sebab dan tujuan yang tertentu.

Hati Yang Sabar Dan Sentiasa Bersyukur

Sebagai umat Islam yang beriman, pertamanya, kita amat dituntut untuk bersabar dalam apa jua perkara yang berlaku dan terjadi terhadap diri kita. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat selawat dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah Al-Baqarah, 2: 155-157)

Dalam suatu hadis menyatakan bahawa orang-orang yang beriman itu sikapnya sentiasa bersyukur apabila berlaku sesuatu yang menggembirakannya, manakala sebaliknya, dia juga sentiasa bersabar bila mana terjadi perkara yang mengakibatkan kesusahan kepadanya.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan dalam urusan orang-orang yang beriman, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi mereka yang beriman. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (Shahih Muslim, no. 2999)

Malah, Allah Ta’ala sendiri memberi motivasi bagi mereka yang bersabar iaitu dengan menjanjikan berita yang menggembirakan kepada mereka dalam setiap ujian yang diterimanya:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar…”

Kata Al-Hafiz Ibnul Qayyim rahimahullah (Wafat: 751H):

إذا أنعم عليه شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر. فإن هذه الأمور الثلاثة عنوان سعادة العبد، وعلامة فلاحه في دنياه وأخراه، ولا ينفك عبد عنها أبداً.

Apabila diberi nikmat dia bersyukur, apabila diuji dia sabar, dan apabila berdosa dia beristighfar (bertaubat). Tiga perkara ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba serta tanda kejayaan di dunia dan akhirat. Dan hamba tersebut tidak berpisah darinya buat selamanya.” (Al-Waabil Ash-Shayyib, m/s. 5)

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Wafat: 728H) berkata:

فمن ابتلاه الله بالمر بالبأساء والضراء والبأس وقدر عليه رزقه فليس ذلك إهانة له بل هو ابتلاء فإن أطاع الله في ذلك كان سعيدا وإن عصاه في ذلك كان شقيا كما كان مثل ذلك سببا للسعادة في حق الأنبياء والمؤمنين وكان شقاء وسببا للشقاء في حق الكفار والفجار

Maka sesiapa yang diuji oleh Allah dengan kesusahan, kesengsaraan, dan kesulitan (tekanan), serta kekurangan harta, maka sedarlah bahawa itu semua bukanlah pernghinaan terhadapnya, tetapi sebaliknya adalah ujian Allah. Kerana apabila dia tetap mentaati Allah dalam keadaan seperti itu, nescaya dia akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi jika sebaliknya, iaitu dia terus bermaksiat kepada Allah, nescaya dia akan mendapatkan kesengsaraan. Ujian dan dugaan Allah merupakan sebab yang menghantarkan para Nabi dan orang-orang beriman untuk mendapatkan kebahagiaan. Akan tetapi, bagi orang-orang kafir dan fajir (pelaku dosa), ujian tersebut malah menjadi sebab yang menghantarkan mereka kepada kesengsaraan.” (Qaa’idah fil Mahabbah, m/s. 167)

Pelbagai Ujian Sebagai Bukti Kasih Sayang Allah Kepada Hambanya

Dalam beberapa keadaan, ada sebahagian pihak yang memiliki sifat suka dan cepat menghukum. Mereka menyatakan kepada pihak yang lain yang ditimpa musibah dan ujian kesusahan sebagai kelompok yang dibenci oleh Allah malah dilaknat oleh Allah.

Sewajarnya, kita perlulah berhati-hati dengan menilai perkara tersebut dengan dalil yang betul. Ia sebenarnya belum tentu diturunkan sebagai tanda Allah murka dan benci kepada pihak tersebut.
Dalam hal ini, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya ganjaran (pahala) bersamaan dengan besarnya ujian (bala’). Sesungguhnya apabila Allah mengasihi sesuatu kaum, Dia menurunkan ujian (bala’). Maka sesiapa yang redha maka dia mendapat keredhaan (Allah), dan sesiapa yang marah maka dia mendapat kemurkaan (Allah).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2396)

Ujian Dan Musibah Menghapuskan Dosa Orang Beriman

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلَا نَصَبٍ، وَلَا سَقَمٍ، وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah menimpa seseorang yang beriman itu dari rasa sakit yang berpanjangan, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sehinggakan kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.” (Shahih Muslim, no. 2573)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukuman terhadapnya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan atas hamba-Nya, Dia akan menangguhkan hukuman terhadapnya akibat dosanya, sehingga hamba tersebut pun akan datang pada hari Kiamat dengan membawa dosa-dosanya (yang banyak tersebut).” (Sunan At-Tirmidiz, no. 2396)

Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Mas’oud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

Tidak seorang muslim pun yang tertimpa perkara yang menyakitkan, sama ada berupa penyakit ataupun yang lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dengan perkara tersebut dosa-dosanya seperti dedaunan yang gugur dari pokok (tatkala musim luruh).” (Shahih Al-Bukhari, no. 5647)

Kemudian ada hadis dari Jaabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ أَوْ أُمِّ الْمُسَيِّبِ فَقَالَ: «مَا لَكِ؟ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيِّبِ تُزَفْزِفِينَ؟» قَالَتْ: الْحُمَّى، لَا بَارَكَ اللهُ فِيهَا، فَقَالَ: «لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengunjungi Ummu As-Saa’ib atau Ummu Al-Musayyib, lalu Rasulullah bertanya:
“Kenapa dengan engkau? Wahai Ummu As-Saa’ib atau Ummu Al-Musayyib, kenapa engkau menggigil?”
Maka beliau pun jawab:
“Aku demam, semoga Allah tidak memberkahi demam.” Maka Rasulullah pun bersabda:
“Janganlah engkau mencela demam, kerana demam itu dapat menghapuskan dosa anak Adam sebagaimana al-Kiir (sejenis alat peniup api) yang menghilangkan karat-karat besi.
” (Shahih Muslim, no. 2575)

Dari hadis-hadis ini menunjukkan bahawa kesusahan, kepayahan, kesakitan, dan juga kesedihan akan menjadi penyebab penghapus kepada dosa-dosa yang ada padanya dari sisi Allah jika seseorang itu beriman dan sabar. Ini menunjukkan betapa sifat Maha Kasih dan Sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap para hamba-Nya.

Kata seorang tabi’in, Qais bin ‘Ubbaad rahimahullah:

أ ساعات الوجع يذهبن ساعات الخطايا

Saat-saat yang ditempuhi dengan kesakitan akan menghapuskan saat-saat yang dilalui dengan dosa-dosa.” (Hannad bin As-Saari Al-Kufii, Az-Zuhd, no. 413)

Sampai-sampai ada sebuah hadis dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قَالَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَأَيْتَ هَذِهِ الْأَمْرَاضَ الَّتِي تُصِيبُنَا مَا لَنَا بِهَا ؟ قَالَ: ” كَفَّارَاتٌ ” قَالَ أُبَيٌّ: وَإِنْ قَلَّتْ ؟ قَالَ: ” وَإِنْ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا ” قَالَ: فَدَعَا أُبَيٌّ عَلَى نَفْسِهِ أَنْ لَا يُفَارِقَهُ الْوَعْكُ حَتَّى يَمُوتَ فِي أَنْ لَا يَشْغَلَهُ عَنْ حَجٍّ، وَلَا عُمْرَةٍ وَلَا جِهَادٍ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَلَا صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فِي جَمَاعَةٍ فَمَا مَسَّهُ إِنْسَانٌ، إِلَّا وَجَدَ حَرَّهُ حَتَّى مَاتَ

Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, “Apa pandangan engkau tentang penyakit-penyakit yang menimpa kami ini, apa yang kami dapat darinya?” Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sebagai kaffaraat (pengampunan dosa-dosa).” Ubay (bin Ka’ab) berkata, “Sekalipun penyakit itu sedikit?” Beliau bersabda lagi, “Sekalipun tertusuk satu duri dan apa yang lebih ringan lagi.”

Maka Ubay pun berdoa agar dirinya selalu mendapat demam (bersuhu tinggi) sehinggalah dia meninggal dunia (dalam keadaan seperti itu), tetapi yang tidak sampai menjadi penghalang kepadanya untuk melaksanakan haji, atau ‘umrah, atau jihad di jalan Allah, dan tidak juga solat-solat fardhu secara berjama’ah. Maka semenjak dari itu apabila orang menyentuh tubuhnya, pasti akan merasakan panas badannya.” (Musnad Ahmad, no. 11183. Dinilai sahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Al-Albani)

Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يَزَالُ البَلاَءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Tidaklah seorang lelaki atau wanita yang beriman tertimpa balaa’ (ujian), sama ada pada dirinya, anaknya, atau hartanya, sampailah dia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2399)

Walau bagaimanapun, doa Ubay radhiyallahu ‘anhu tersebut lebih merujuk kepada ijtihad beliau. Adapun yang lebih tepat, seseorang mukmin itu hendaklah sentiasa memohon kepada Allah agar dijauhkan dari ujian dan musibah, kerana dia pun tidak tahu sama ada dia akan mampu bersabar ataupun tidak sekiranya musibah benar-benar dihadapkan padanya.

Bahkan ada sebuah hadis dari Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri bersabda:

اسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ

Mohonlah keampunan dan al-‘aafiyah (keselamatan dari hal-hal yang tidak disukai) kepada Allah, kerana sesungguhnya tidak ada pemberian yang lebih baik setelah anugerah keyakinan (keimanan) selain dari al-‘aafiyah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3558)

Dalam Sunan Abi Daud dari Ibnu ‘Umar, beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ، حِينَ يُمْسِي، وَحِينَ يُصْبِحُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِي
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan doa-doa ini di waktu petang dan pagi hari, iaitu (doanya):
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu al-‘aafiyah (keselamatan) di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keampunan dan al-‘aafiyah dalam agamaku, duniaku, ahli keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah ‘aurat (‘aib)ku.” (Sunan Abi Daud, no. 5074)

Dari sebab itulah, maka sebahagian salaf antaranya seperti Mutharrif bin ‘Abdillah rahimahullah (tokoh dari kalangan tabi’in) berkata:

لأَنْ أُعَافَى فَأَشْكُرَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُبْتَلَى فَأَصْبِرَ

Sungguh aku lebih menyukai kesihatan yang dapat aku syukuri berbanding ujian berupa musibah yang harus kuhadapi dengan kesabaran.” (Ibn Abid Dunya, Asy-Syukr, no. 28 dan 65)

Diberi Pahala, Dihapuskan Suatu Kesalahan, Dan Dinaikkan Darjat

Bagi orang-orang yang beriman juga, dengan suatu ujian dan musibah ia dijadikan Allah akan mendapat ganjaran pahala, dituliskan kebaikan kepadanya, dihapuskan kesalahan, dan diangkat darjatnya. Ini adalah sebagaimana yang dijelaskan melalui beberapa hadis. Antaranya sebagaimana hadis dari Ummu Salamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ}، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allahumma ajurnii fii mushiibatii, wa ahluflii khairam minhaa” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku, dan gantikanlah ia dengan yang lebih baik darinya) melainkan Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya itu, dan menggantikan dengan yang lebih baik baginya.” (Shahih Muslim, no. 918)

Sahabat Nabi, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

مَا مِنْ مرض يُصِيبُنِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الْحُمَّى، لأنها تَدْخُلُ فِي كُلِّ عضو منى وان الله عز و جل يُعْطِي كُلَّ عضو قِسْطَهُ مِنَ الْأَجْرِ

Tidak ada sakit yang pernah aku alami dan lebih aku sukai berbanding sakit demam. Kerana ianya masuk menyerang ke setiap bahagian tubuhku dan Allah akan memberikan pahala bagi setiap bahagian tubuh yang sakit tersebut.” (Al-Adabul Mufrad, no. 503)

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً، فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan dicatat baginya dengan sebab itu satu darjat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya.” (Shahih Muslim, no. 2572)

Kemudian dalam hadis yang lain lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ، لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ – ثُمَّ اتَّفَقَا – حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya seorang hamba itu apabila telah ditetapkan baginya suatu kedudukan di sisi Allah, tetapi dia tidak dapat meraihnya dengan amalnya, maka Allah pun akan menimpakan ujian kepada tubuhnya, atau hartanya, atau kepada anaknya. Kemudian Allah menjadikannya mampu bersabar menjalani ujian tersebut, sampailah Allah menyampaikannya ke kedudukan yang telah ditetapkan-Nya itu.” (Sunan Abu Daud, 3090)

Begitulah Allah menyatakan bahawa akan mengangkat darjat seseorang yang beriman itu melalui ujian dan musibah yang dia sendiri berikan kepada hamba-hambanya.

Sebagai Ujian Keimanan

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan beberapa ujian dan cubaan yang tertentu buat para hamba-Nya dengan tujuan menguji keimanan mereka. Iaitu sama ada mereka benar-benar beriman dan teguh di atas agamanya, atau sebaliknya.

Ini dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sebarang cubaan)? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Surah al-Ankabut, 29: 2-3)

Ujian Sebagai Jalan Menuju Syurga, Selamat Dari Neraka

Tsabit di dalam suatu hadis sahih bahawa Syurga itu diperolehi antaranya dengan jalan yang berliku dan perkara-perkara yang tidak disenangi. Manakala neraka itu jalannya dipenuhi dengan pelbagai macam kehendak dan keperluan yang memenuhi nafsu serta syahwat.

Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

Neraka itu dikelilingi dengan pelbagai jenis nafsu syahwat, manakala Syurga pula dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai.” (Shahih Al-Bukhari, no. 6487)

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyatakan bahawa bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi pelbagai kesusahan dan kepayahan dalam kehidupannya, maka ganjarannya adalah Syurga. Allah memberi ganjaran Syurga kepada para hamba-Nya yang sentiasa memiliki sifat redha, sabar, dan tabah dalam setiap ujian yang diberikan kepadanya.

Dalam satu hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ، إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ، إِلَّا الجَنَّةُ

Tidaklah ada suatu balasan dari sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa orang kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar (kerana mengharapkan pahala Allah) dalam menghadapinya melainkan Syurga (sebagai balasan – pent.).” (Shahih Al-Bukhari, no. 6424)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Bahawa beliau bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjenguk seorang yang demam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

أَبْشِرْ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا، لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

Berbahagialah, kerana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Demam adalah api-Ku yang aku timpakan di dunia kepada hamba-Ku yang beriman, supaya menjadi pengganti nasib buruknya dari api Neraka di akhirat.”.” (Musnad Ahmad, no. 9676)

Menerapkan Sifat Rendah Diri Dan Menghilangkan Sifat Lalai

Dengan suatu ujian dan dugaan tertentu, sebenarnya ia dapat membawa para insan agar lebih mudah untuk menempatkan dirinya mendekati Allah. Dengan suatu kepayahan dan kesusahan, ia sebenarnya lebih mudah membawa manusia agar sentiasa memiliki sifat rasa kekurangan dan sentiasa memerlukan Allah. Hati akan lebih mudah untuk luntur dan sayu dalam keadaan yang menguji.
Kerana pada kebiasaannya, manusia itu lazim bersifat leka dan lalai dari mengingat Allah apabila berada dalam keadaan yang menyenangkan, limpahan kekayaan, dan kecukupan apa yang diperlukan. Lalu Allah mendatangkan beberapa ujian tertentu bagi mengembalikan hati mereka ini agar mengingat Allah dan menjadi rendah diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kesusahan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendah diri.” (Surah Al-An’am, 6: 42)

Namun, jika setelah Allah menimpakan ujian kepada sebahagian kaum tertentu mereka tidak juga mendapat kesedaran dan kembali tunduk kepada Allah, maka Allah akan menurunkan suatu bentuk tipu daya yang berupa kesenangan yang memperdaya. Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah (Wafat: 110H) berkata:

من وسع الله عليه فلم ير أنه يمكر به، فلا رأي له. ومن قَتَر عليه فلم ير أنه ينظر له، فلا رأي له، ثم قرأ: { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ } قال الحسن: مكر بالقوم ورب الكعبة؛ أعطوا حاجتهم ثم أخذوا

Sesiapa yang diluaskan oleh Allah namun dia tidak melihat (tidak menyedari) bahawa Allah sedang mengujinya, bererti dia tidak mempunyai akal. Sesiapa yang disempitkan (rezekinya) oleh Allah namun dia tidak melihat (tidak menyedari) bahawa Allah sedang memperhatikannya, maka bererti dia tidak memiliki akal.
Kemudian beliau (Al-Hasan) membaca firman Allah (maksudnya):
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan secukup-cukupnya, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa.” (Surah al-An’am, 6: 44)

Kata beliau lagi, “Demi Rabb Ka’bah, demikianlah Allah memperdayakan suatu kaum, Allah penuhi hajat mereka lalu Dia menyiksanya (dengan sebab melupakan peringatan Allah – pent.).” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/256)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhahu wa Ta’ala menyatakan:

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan tidak-kah mereka mahu melihat, bahawa mereka diberi ujian (dengan pelbagai cubaan) pada tiap-tiap tahun, sekali atau dua kali; kemudian mereka tidak juga bertaubat dan tidak pula mereka mahu beringat (serta insaf)?” (Surah At-Taubah, 9: 126)

Ujian Melanda Akibat Hilangnya Urusan Dakwah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan jagalah diri kamu dari fitnah (musibah) yang bukan sahaja akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahawa Allah Maha berat azab siksa-Nya.” (Surah Al-Anfal, 8: 25)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyatakan:

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ، لَمْ يُغَيِّرُوهُ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

Tidaklah satu kaum yang di kalangan mereka terdapat orang-orang yang melakukan maksiat sementara kaum itu pula lebih kuat dan lebih ramai dari orang-orang yang melakukan maksiat, tetapi mereka tidak mengubahnya, melainkan Allah akan meliputi mereka semua dengan siksaan.” (Musnad Ahmad, no. 19230)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

Sesungguhnya apabila manusia melihat sesuatu kezaliman tetapi tidak bertindak menahan dengan tangannya atau tidak mempedulikannya, dibimbangi Allah mengenakan hukuman (azab) kepada mereka.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2168)

Melalui tiga penjelasan tersebut, dapat kita maklumi bahawa fitnah dan ujian juga boleh melanda di dalam lingkungan kaum yang beriman atas sebab mereka meninggalkan dakwah dan tarbiyah yang haq kepada golongan yang melakukan maksiat di tempat-tempat mereka.

Sebuah Motivasi

Kalaulah tidak kerana ujian dan cabaran, serta musibah yang datang melanda, sudah tentu ramai manusia akan mudah menjadi sombong, lalai, ‘ujub, dan keras hatinya. Padahal sifat-sifat yang seperti ini termasuk sifat yang merosakkan dan memberi akibat yang buruk di akhirat kelak, malah sebahagian kesannya terungkap ketika di dunia ini lagi.

Dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah (Wafat: 110H), ketika menafsirkan ayat:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Rabb-nya.” (Surah Al-Aadiyaat, 100: 6)

Beliau berkata (tafsiran ayat tersebut):

يَذْكُرُ الْمَصَائِبَ وَيَنْسَى النِّعَمَ

Manusia itu memiliki kebiasaan suka berkeluh-kesah dengan musibah yang menimpanya, sementara dia melupakan limpahan nikmat yang ada padanya.” (Al-Maradh wal Kaffaraat, no. 222. Tafsir Al-Qurthubi, 20/160)

Maka di antara Rahmat Allah, melalui musibah yang Dia turunkan inilah menjadikan kita sebagai hamba yang berupaya untuk kembali insaf, mampu merenung, mampu segera beringat, mampu kembali kepada kebenaran, terbuka hati untuk beriman, dan mungkin juga dengan tujuan memperbaiki tahap ‘ubudiyyah (penghambaan) kita kepada-Nya.

Dengan pelbagai ujian juga, mampu menjadikan hati kita bersih dan suci dari pelbagai dosa dan kesalahan iaitu di mana Allah menghapuskan pelbagai kesalahan-kesalahan para hambanya yang lalu dengan memberinya ujian-ujian yang tertentu. Lalu dengan ujian dan musibah tersebut, Allah menggandakan lagi ganjaran-Nya dengan menganugerahkan pahala, mengangkat darjatnya, malah sehingga menjanjikan berita gembira berupa Syurga di hari kemudian nanti.

Bagi golongan yang beriman, dan semoga kita sentiasa termasuk di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman seharusnya bertawakkal”.” (Surah At-Taubah, 9: 51)

Dalam ayat yang lain:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, nescaya Allah akan memberi petunjuk kepada qalb-nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah At-Taghabun, 64: 11)

Dapat juga kita fahami bahawa ujian dan musibah yang Allah turunkan juga sebahagiannya adalah kerana kasih-sayang Allah itu sendiri kepada para hamba-Nya yang memiliki sifat redha. Dan hal ini telah pun dijelaskan.

Dan perlu juga kita ketahui bahawa Rahmat atau nikmat Allah itu sendiri teramat-lah luas dan tidak terhitung jika hendak dibandingkan dengan segala ujian dan musibah yang Dia turunkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Surah Ibrahim, 14: 34)

Kita juga harus memahami setiap situasi yang kita alami dan hadapi dengan sentiasa meletakkan rasa keinsafan dalam diri sendiri dengan tidak lupa untuk melakukan itrospeksi diri. Ini adalah kerana mungkin di sana terdapat beberapa musibah lain yang diturunkan kepada insan-insan yang lain yang mana dengan kadar yang lebih buruk dan teruk lagi. Dan jangan pula sekali-kali untuk kita memiliki rasa putus-asa terhadap nikmat dan rahmat Allah yang sekian banyaknya diberikan dan disediakan kepada kita. Sebagaimana hadis dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengingatkan:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang-orang yang (kehidupan dunianya) lebih rendah berbanding kamu, dan jangan melihat kepada orang yang (kedudukannya dunianya) di atas kamu; kerana itu akan lebih menjaga kamu dari perbuatan meremehkan nikmat Allah terhadapmu.” (Shahih Muslim, no. 2963)

Kemudian dalam satu ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ (9) وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ (10) إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus-asa lagi bersikap ingkar. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan setelah bencana yang menimpanya, nescaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dari-ku.” Sesungguhnya manusia itu suka bersenang-senang dan berbangga-bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal soleh; mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Surah Huud, 11: 9-11)

Sebagai kaum yang beriman, mereka meyakini bahawa Allah mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya dan mengetahui mana yang sebaliknya. Malah, Allah berhak melaksanakan apa yang dikehendaki oleh-Nya dengan kadar yang sebenarnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu benci kepada sesuatu (perintah dalam agama) sedangkan ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu sedangkan ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah yang Mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.” (Surah al-Baqarah, 2: 216)

Dalam satu sudut, hal-hal yang dibenci oleh seorang hamba mungkin lebih baik dari hal-hal yang sentiasa disukainya. Kerana hal-hal yang dibenci akan mendorongnya untuk sentiasa beringat, selalu berdoa, dan tunduk berserah diri kepada Allah, sedangkan hal-hal yang disukai seringkali cenderung membuatkan seseorang alpa dan lupa kepada-Nya.

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Dan jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (iaitu) orang-orang yang meyakini, bahawa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Surah al-Baqarah, 2: 45-46)

Demikianlah, Allah menurunkan beberapa ujian dalam pelbagai bentuk kepada para hamba-Nya. Semuanya memiliki sebab, tujuan, rahsia, dan hikmah yang sesungguhnya Dia sendiri lebih Mengetahui atas segala apa yang dilakukan-Nya. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang dikemukakan di atas menjelaskan perkara-perkara tersebut dalam pelbagai situasi dan keadaan. Malah, ianya turun sama ada dalam bentuk yang disukai mahupun yang sebaliknya. Biar apa pun keadaanya, semoga kita adalah sentiasa tergolong dalam kelompok yang sabar, tabah, redha, syukur, dan mendapat perlindungan dari-Nya dalam apa jua hal. Hanya kepada-Nya lah kita berserah, dan kepada-Nya lah tempat kita kembali. Tiada daya serta upaya melainkan dengan izin dari-Nya.




Sumber : http://www.ilmusunnah.com/hikmah-di-balik-musibah/
----------------- Semoga Bermanfaat. By: KABELOA Balaroa Pewunu -----------------------

MADRASAH STANAWIYAH KABELOA ALKHAIRAAT Balaroa Pewunu

Balaroa Pewunu Kec. Dolo Barat Kab. Sigi Prov. Sulteng - Indonesia. ...Read More
۞ MEDIA - SOSIAL ۞